Wednesday, 30 December 2015

Koefisien perpindahan kalor pengembunan di dalam pipa horizontal

Koefisien perpindahan kalor pengembunan di dalam pipa horizontal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui koefesien perpindahan kalor pengembunan Petrozon Rossy-12 di dalam pipa horizontal pada berbagai variasi kualitas dan aliran massa yang berbeda. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebuah sistem pendingin kompresi uap yang dimodifikasi dengan menambahkan orifice, pre-heater dan seksi uji yang ditempatkan setelah kondenser dan sebelum katup ekspansi. Seksi uji berupa suatu pipa ganda aliran searah yang mana pipa bagian dalam terbuat dari tembaga sepanjang 80 cm dengan diameter dalam 16,60 mm dan diameter luar 18,85 mm , sedangkan pipa bagian luar merupakan pipa PVC yang terisolasi. Data yang didapatkan berupa laju aliran massa refrigeran Petrozon Rossy-12 yang diukur dengan orifice, kualitas refrigeran Petrozon Rossy-12 yang diatur melalui pre-heater, tekanansebelum masuk seksi uji dan temperatur pada beberapa daerah pada seksi uji serta temperatur dan debit air yang mendinginkan seksi uji.Hasil penelitian berupa koefesien perpindahan kalor pengembunan Petrozon Rossy-12 didalam pipa horizontal pada berbagai variasi kualitas uap refrigeran dan laju aliran massa refrigeran yang berbeda.
Kata kunci : Petrozon Rossy-12, koefisien perpindahan kalor pengembunan, tabung horizontal, kualitas, laju aliran massa

 PENGANTAR
Kekawatiran tentang kerusakan lapisan ozon yang salah satu penyebabnya adalah digunakannya bahan-bahan yang mengandung CFC untuk sistem pendingin. Hal ini telah mendorong untuk mencari refrigerant alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan tidak merusak lapisan ozon. Salah satu refrigerant alternatif tersebut adalah Petrozon.
Kondenser merupakan

Estimasi nilai koefisien aktifitas pada campuran BINER n-PROPIL alkohol-air

Estimasi nilai koefisien aktifitas pada campuran BINER n-PROPIL alkohol-air. Data yang akurat tentang sifat-sifat bahan sangat diperlukan untuk perancangan alat dan operasi proses di industri. Namun seringkali data tersebut tidak tersedia sehingga menimbulkan kesulitan pada perancangan dan pelaksanaan proses. Salah satu data yang tidak cukup tersedia dengan lengkap adalah koefisien aktifitas pada suatu campuran. Koefisien aktifitas ini berperan dalam dalam menghitung kesetimbangan fase suatu campuran.
Alternatif yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan metode estimasi sifat bahan. Terdapat berbagai metode untuk estimasi tersebut, namun dalam tulisan ini dibahas penerapan metode UNIFAC (mewakili kelompok metode kontribusi gugus) dan metode Margules (mewakili kelompok metode estimasi reguler) untuk menghitung nilai koefisien aktifitas pada campuran n-propil alkohol – air.
Dari hasil perhitungan, metode UNIFAC menghasilkan γ1 = 1,129 dan γ2 = 2,9823 dengan deviasi untuk γ1 = 0,098 dan untuk γ2 = 0,14. Metode Margules menghasilkan γ1 = 1,002 dan γ2 = 3,36 dengan deviasi untuk γ1 = 0,00849 dan untuk γ2 = 0,323
Kata kunci: koefisien aktifitas, metode UNIFAC, metode Margules

 PENDAHULUAN
Hubungan kesetimbangan uap-cair diperlukan untuk menyelesaikan banyak permasalahan dalam rekayasa proses. Data kesetimbangan, baik kesetimbangan uap-cair maupun keserimbangan cair-cair, biasanya diperoleh melalui penelitian. Namun kadang-kadang pengukuran melalui penelitian semacam itu sulit dilakukan, terutama saat senyawa yang terlibat dalam kesetimbangan semakin banyak. Biaya yang diperlukan juga cukup besar. (Reid, 1977)
Alternatif yang dapat ditempuh untuk memperoleh data kesetimbangan adalah

Surfaktan yang dapat terpolimerisasi: Peluang pemanfaatannya dalam industri

SURFAKTAN YANG DAPAT TERPOLIMERISASI: PELUANG PEMANFAATANNYA DALAM INDUSTRI. Surfaktan berasal dari singkatan surface active agent (agen aktif permukaan) yang secara bahasa berarti aktif pada permukaan. Surfaktan dibutuhkan dalam suatu proses / operasi seperti pada proses pembentukan emulsi cat. Setelah proses tersebut surfaktan kadang-kadang tidak dibutuhkan lagi, bahkan dapat bersifat negatif terhadap proses selanjutnya dan bersifat mengganggu lingkungan hidup karena sifatnya yang sulit diuraikan. Surfaktan yang dapat terpolimerisasi (polymerizable surfactant) dapat memecahkan masalah ini. Polimerisasi surfaktan terjadi pada tahap setting dan curing. Metoda terbaik polimerisasi surfaktan adalah dengan mereaksikan surfaktan dengan monomer atau binder. Kegunaan metoda ini adalah dalam aplikasi emulsi alkyd, polimerisasi emulsi, dan modifikasi permukaan.
Kata kunci: surfaktan yang dapat terpolimerisasi (polymerizable surfactant), surfaktan reaktif, polimerisasi, kopolimer, monomer

Pendahuluan
Surfaktan berasal dari istilah bahasa Inggris surfactant yang merupakan singkatan dari surface active agent. Arti literalnya adalah aktif pada permukaan. Dengan kata lain sifat surfaktan ditandai oleh kecenderungan berada pada permukaan dan antarfasa. Antarfasa adalah batas antara dua fasa yang tidak saling campur; sedangkan permukaan menunjukkan bahwa salah satu dari dari fasa adalah gas (biasanya udara). Ada lima antarfasa yang mungkin terbentuk:
• Padat-uap (permukaan)
• Padat-cair
• Padat-padat
• Cair-uap (permukaan)
• Cair-cair

Surfaktan cenderung mengadsorpsi permukaan untuk menurunkan energi bebas pada perbatasan antarfasa. Surfaktan dapat mengadsorpsi pada kelima jenis permukaan tersebut. Surfaktan yang sering diterapkan dalam industri adalah

Menentukan koefisien perpindahan massa operasi adsorpsi padat-cair pada tangki berpengaduk ganda

MENENTUKAN KOEFISIEN PERPINDAHAN MASSA OPERASI ADSORPSI PADAT-CAIR PADA TANGKI BERPENGADUK GANDA. Operasi adsorpsi banyak dijumpai di industri kimia, baik untuk pengangan produk utama, hasil samping, maupun limbah industri. Kecepatan perpindahan massa pada operasi adsorpsi dipengaruhi oleh koefisien perpindahan massa dan dimensi alat yang digunakan. Oleh karena itu besarnya koefisien perpindahan massa perlu dicari untuk dapat memperkirakan besarnya kecepatan perpindahan massa pada operasi adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari besarnya koefisien perpindahan massa dan hubungannya dengan variabel-variabel lain sebagai dasar bagi perancangan alat untuk operasi adsorpsi padat-cair dengan tangki berpengaduk.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Resin Amberlite-120 yang telah diaktifkan dengan larutan H2SO4. Resin digunakan untuk menjerap NaOH dari larutan NaOH yang konsentrasinya 0,5 g/L. alat yang digunakan adalah tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan baffle. Jenis pengaduk yang digunakan adalah 2-flat blade paddle dan 2-retreated blade paddle. Koefisien perpindahan massa dicari dengan membuat pemodelan matematis dari distribusi NaOH di dalam padatan dan dalam larutan.
Hasil analisis data dengan model matematis yang disusun menunjukkan koefisisen perpindahan massa berkisar antara 2,0819.10-4 cm/menit dan 8,2805.10-4 cm/menit untuk pengaduk jenis 2-flat blade paddle serta antara 2,2387.10-4 cm/menit dan 4,4176.10-4 cm/menit untuk pengaduk jenis 2-retreated blade paddle, dengan difusifitas efektif rata-rata sebesar 2,8046.10-4 cm2/menit.
Kata Kunci: perpindahan massa, adsorpsi padat-cair, tangki berpengaduk


 PENDAHULUAN
Adsorpsi padat-cair, operasi yang berkaitan dengan fenomena perpindahan massa antara cairan dan permukaan padatan, banyak dijumpai di industri kimia. Adsorpsi dapat dijumpai pada pada proses pembuatan produk utama, penanganan hasil samping, maupun penanganan limbah.
Koefisien perpindahan massa merupakan

Evaluasi Performance Alat Proses Industri Dengan Analisis Termodinamika

Evaluasi Performance Alat Proses Industri Dengan Analisis Termodinamika.Performance (unjuk kerja) alat-alat proses di industri perlu diketahui, karena berhubungan dengan penggunaan energi, yang secara langsung akan mempengaruhi besarnya annual cost. Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan efektivitas suatu alat proses adalah seberapa besar jumlah energi yang hilang (Wlost) dari alat proses tersebut. Semakin besar energi yang hilang, berarti semakin tidak efisien suatu alat proses. Penentuan Wlost dari suatu alat proses dapat dilakukan dengan analisis termodinamika. Analisis menggunakan konsep hukum termodinamika I, tentang konservasi energi (ketetapan energi), dan hukum termodinamika II, tentang kriteria proses berdasarkan nilai entropi. Dari kedua konsep ini akan diperoleh persamaan matematis yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya Wlost, yaitu:

Wlost=To.ΔStotal
ΔStotal =ΔSsys +ΔSsorr..
 ΔS = entropy change ; To = temperature of sorrounding

Dengan mengetahui Wlost masing-masing alat proses, dapat menseleksi mana alat proses yang efisien dan mana alat proses yang tidak efisien. Sehingga langkah penting selanjutnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana usaha untuk menaikkan efisiensi alat proses yang tidak efisien tersebut.
Kata kunci: performance, analisis termodinamika, entropi, efisien

PERMASALAHAN
Untuk menjamin berlangsungnya proses-proses di industri diperlukan alat-alat proses yang terkait dengan proses yang ada. Alat-alat proses yang digunakan dirancang minimal dapat menjalankan tugas sesuai dengan proses yang di-handle. Hal ini masih memberikan kemungkinan alat belum bekerja secara optimal dan efisien. Untuk beberapa jenis alat proses terdapat batasan-batasan tertentu di mana alat dikatakan dapat bekerja sesuai tugasnya. Sebagai contoh alat penukar panas (Heat Exchanger, HE) mempunyai batasan dirt factor (Rd) dan pressure drop (- ΔP), yang mana alat HE dikatakan dapat bekerja sesuai tugasnya jika mempunyai Rd yang lebih besar sedikit dari Rdmin yang disyaratkan, dan memberikan (- ΔP) yang lebih kecil dari (- ΔP)maks yang diijinkan (Rubahman dan Rahmat, 1978). Tetapi secara umum performance (unjuk kerja) alat-alat proses sebenarnya dapat dievaluasi berdasarkan batasan termodinamika, yaitu jumlah energi yang hilang (unavailable) sebagai kerja musnah (lost work, Wlost). Semakin besar jumlah kerja musnah, semakin tidak efisien alat proses tersebut.
Penentuan jumlah kerja musnah dapat dilakukan dengan menggunakan