Monday, 28 December 2015

Reflektor pelindung nyala api KOMPOR MINYAK TANAH SUMBU (KMTS)

Reflektor pelindung nyala api KOMPOR MINYAK TANAH SUMBU (KMTS). Peningkatan kinerja Kompor Minyak Tanah Sumbu (KMTS) oleh pengaruh pemasangan benda reflektor pelindung nyala api diamati dan hasilnya memberikan pengaruh positif terhadap kinerja efisiensi dan daya termal (panas). Pengukuran terhadap efisiensi dan daya panas KMTS dilakukan guna melihat pengaruh positif secara kuantitatif (efisiensi dan daya kompor) oleh pantulan radiasi benda reflektor tersebut. Dengan menggunakan benda uji contoh kompor Hemat Energi DGS sumbu 20 hasil pengembangan IPTEKDA LIPI, diperoleh hasil berupa peningkatan daya panas kompor yang berkisar antara 0.06 – 0.08 KW, atau percepatan waktu mendidih berkisar antara 3 – 5 menit setiap 5 kg air dan peningkatan efisiensi panas berkisar antara 5,02 – 7,89 %. Benda reflektor ini telah terdaftar dalam paten dengan No. P00200200571
Kata Kunci : Kompor, Reflektor nyala api, Efisiensi

PENDAHULUAN
Kompor minyak tanah sumbu (KMTS) masih banyak digunakan oleh sebagian besar masyarakat khususnya menengah ke bawah dan pada umumnya nyala api KMTS masih belum terlindung benar sehingga ada peluang potensi pemanfaatan panas dari radiasi nyala api tersebut. Kinerja efisiensi KMTS masih dapat ditingkatkan dengan cara

Peningkatan umur lelah material velg racing dengan ARTIFICIAL AGING

Peningkatan umur lelah material velg racing dengan ARTIFICIAL AGING. Obyek penelitian ini adalah menentukan sifat lelah material velg racing sebelum dan sesudah proses Artificial Aging. Spesimen uji dibuat dari material velg racing yang termasuk material alumunium paduan jenis Al-Mg-Si. Proses Artificial Aging dimulai dengan soliution treatment pada temperatur 5400C dengan waktu tahan 2 jam dilanjutkan dengan quenching pada media air kemudian diaging pada temperatur 1500C dengan variasi waktu tahan 2 jam, 4 jam, dan 5 jam. Pengujian lain yang dilakukan adalah uji tarik. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa proses artificial aging yang dilakukan cenderung menaikkan kekuatan tarik dan sifat lelah dari material dasar.
Kata kunci : artificial aging, sifat lelah, Al-Mg-Si

LATAR BELAKANG
Hampir semua struktur mesin dalam aplikasinya menerima beban yang bervariasi. Beban yang bervariasi akan mengakibatkan fluktuasi tegangan pada elemen yang membangun struktur tersebut. Jika fluktuasi tegangan ini cukup besar dan berulang-ulang, kegagalan struktur dapat terjadi walaupun tegangan maksimal yang terjadi pada elemen struktur tersebut lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan materialnya. Kegagalan ini dikatakan sebagai kegagalan fatik atau patah lelah.
Alumunium paduan merupakan logam non fero yang paling banyak digunakan sebagai bahan dalam komponen kendaraan termasuk velg racing. Velg racing adalah

Friday, 18 December 2015

Akuisisi data berat melalui komputer berbasis mikrokontroler AT89C51

Perangkat industri yang mempunyai parameter kritis seperti berat perlu diamati terus menerus agar kinerjanya dapat sesuai dengan kondisi operasi yang telah ditetapkan. Pengamatan dapat dilakukan melalui sebuah perekam yang menggunakan pena sebagai penggambar grafik parameter pada kertas. Cara demikian tidak efisien. Salah satu solusi yang bisa dipergunakan adalah dengan merancang sebuah perangkat keras untuk mengubah besaran analog (berat material) menjadi digital dan mentransmisikan data digital ini ke komputer untuk dilakukan perekaman dan penggambaran grafik di layar monitor. Perangkat keras ini berbasis microcontroller agar didapat sistem yang benar-benar minimal dan murah.Sistem ini dirancang sehingga dapat melakukan tugas konversi data

Manajemen kualitas pada unit pencapan kain sebagai proses akhir pembuatan kain bermotif

Unit pencapan pada proses pembuatan kain bermotip merupakan suatu unit yang menentukan kualitas akhir suatu unit produk kain. Kualitas produk kain bermotip selain ditentukan oleh bahan baku awal dan desain motip juga ditentukan keberhasilan proses produksi itu sendiri.
Apabila proses produksi berhasil maka akan menghasilkan produk yang berkualitas tingi antara lain kain mempunyai penampilan/performace yang bagus. Produk kain dengan penampilan bagus diharapkan mempunyai daya saing yang tinggi selanjutnya dapat terjual dengan harga yang mahal. Sebaliknya apabila proses produksi gagal maka kain banyak yang rusak/cacat seperti warna blobor, tak cap, belang serta sobek, selanjutnya kain yang rusak/cacat tidak dapat bersaing di pasaran dan tidak dapat didaur ulang. Apabila ini terjadi maka perusahaan akan rugi.
Untuk mendapatkan kualitas yang tinggi serta menemukan kegagalan proses produksi harus mengetahui

Pemasangan railling kamar mandi meningkatkan kenyamanan lansia di pusat kegiatan LANSIA ‘AISYIYAH, SURAKARTA

Perkembangan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengarah kepada ‘gray population’. Berdasarkan survey pendahuluan, ternyata ditemukan masalah-masalah yang menimpa lansia di daerah sekitar tempat tinggalnya, terutama pada daerah kamar mandi. Masalah ergonomi tersebut antara lain disebabkan karena ukuran fasilitas dan alat sanitair kamar mandi tidak sesuai dengan ukuran dan fungsi tubuh lansia pemakainya; pilihan bahan dan tata letak kamar mandi tidak mempertimbangkan batasan kemampuan lansia. Pada penelitian ini diteliti pengaruh penggunaan ‘railling’ di kamar mandi.
Studi ergonomi ini dilakukan di Pusat Kegiatan Lansia ‘Aisyiyah Surakarta. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 13 wanita lansia dengan rentangan umur antara 64-79 tahun. Penelitian ini mempergunakan rancangan sama subjek (‘treatment by subjects’). Perlakuan 1 (P1) yaitu lansia beraktivitas ‘personal hiegyne’ pada kamar mandi setelah dilakukan pemasangan pegangan tangan (‘railling’). Sedangkan kelompok kontrol (P0) yaitu aktivitas lansia pada kamar mandi keadaan mula yaitu ruangan tanpa mempergunakan pegangan tangan. Variabel tergantung yang diteliti adalah kenyamanan lansia yang terdiri dari parameter kemandirian dan kelegaan dalam penggunaan kamar mandi. Untuk mengetahui tingkat kemandirian lansia, dipergunakan check list pengamatan dengan 2 skala Likert pada observasi lapangan, foto dan rekaman ‘closed-circuit TV’. Begitu juga untuk kelegaan dilakukan wawancara dengan kuesioner kelegaan 2 skala Likert. Selanjutnya seluruh data hasil penelitian diuji normalitasnya dengan uji Kolmogorov-Smirnov, sedang kemaknaan antara kedua perlakuan dengan uji ‘t-paired’ pada tingkat kemaknaan (α = 0,05).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: rerata skor kemandirian pada P0 sebesar 4,00 + 1,08, dan untuk kelegaan 6,54 + 1,13. Sedangkan pada P1 sebesar 5,00 + 1,35 pada kemandirian dan 9,23 + 1,09 untuk kelegaan. Dengan dilakukannya pemasangan ‘railling’, terjadi peningkatan skor pada variable kemandirian sebesar 1,00 atau 25,00% dan kelegaan 2,69 (41,13%) dan secara statistik peningkatan tersebut sangat signifikan (p=0,000).
Dapat disimpulkan bahwa intervensi ergonomi berupa pemasangan ‘railling’ kamar mandi pada Pusat Kegiatan Lansia ‘Aisyiyah Surakarta, dapat meningkatkan kenyamanan lansia penggunanya. Pimpinan lembaga pengelola kegiatan lansia dan sejenisnya dianjurkan untuk dapat menerapkan cara-cara seperti hasil penelitian ini.
Kata Kunci: lansia, railling, kamar mandi, ergonomis

PENDAHULUAN
Meningkatnya umur harapan hidup penduduk Indonesia akan berakibat meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia). Yang dimaksud dengan lansia dalam penetapan Program Kesehatan untuk Usia Lanjut, berdasar UU. No.4 tahun 1965 adalah penduduk yang telah berumur lebih dari 55 tahun (Sudana, 1990). Badan dunia PBB menetapkan bahwa lansia adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun (Kumashiro, 2000). Istilah lansia pada telaah ini ditujukan bagi orang yang berusia di atas 55 tahun.
Data pasien lansia yang dirawat dan telah keluar dari Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Prof. DR. R. Soeharso Surakarta, terhitung mulai bulan September tahun 2000 sampai September 2001 berjumlah 466 pasien. Pada kurun waktu 12 (duabelas) bulan tersebut ternyata: 11,16% pasien mengalami cedera di daerah kamar mandi (tergelincir, terjatuh, dan terduduk). Tingginya jumlah lansia yang mengalami kecelakaan di daerah kamar mandi (11,16%), menunjukkan bahwa