Friday, 18 December 2015

Manajemen kualitas pada unit pencapan kain sebagai proses akhir pembuatan kain bermotif

Unit pencapan pada proses pembuatan kain bermotip merupakan suatu unit yang menentukan kualitas akhir suatu unit produk kain. Kualitas produk kain bermotip selain ditentukan oleh bahan baku awal dan desain motip juga ditentukan keberhasilan proses produksi itu sendiri.
Apabila proses produksi berhasil maka akan menghasilkan produk yang berkualitas tingi antara lain kain mempunyai penampilan/performace yang bagus. Produk kain dengan penampilan bagus diharapkan mempunyai daya saing yang tinggi selanjutnya dapat terjual dengan harga yang mahal. Sebaliknya apabila proses produksi gagal maka kain banyak yang rusak/cacat seperti warna blobor, tak cap, belang serta sobek, selanjutnya kain yang rusak/cacat tidak dapat bersaing di pasaran dan tidak dapat didaur ulang. Apabila ini terjadi maka perusahaan akan rugi.
Untuk mendapatkan kualitas yang tinggi serta menemukan kegagalan proses produksi harus mengetahui

Pemasangan railling kamar mandi meningkatkan kenyamanan lansia di pusat kegiatan LANSIA ‘AISYIYAH, SURAKARTA

Perkembangan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengarah kepada ‘gray population’. Berdasarkan survey pendahuluan, ternyata ditemukan masalah-masalah yang menimpa lansia di daerah sekitar tempat tinggalnya, terutama pada daerah kamar mandi. Masalah ergonomi tersebut antara lain disebabkan karena ukuran fasilitas dan alat sanitair kamar mandi tidak sesuai dengan ukuran dan fungsi tubuh lansia pemakainya; pilihan bahan dan tata letak kamar mandi tidak mempertimbangkan batasan kemampuan lansia. Pada penelitian ini diteliti pengaruh penggunaan ‘railling’ di kamar mandi.
Studi ergonomi ini dilakukan di Pusat Kegiatan Lansia ‘Aisyiyah Surakarta. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 13 wanita lansia dengan rentangan umur antara 64-79 tahun. Penelitian ini mempergunakan rancangan sama subjek (‘treatment by subjects’). Perlakuan 1 (P1) yaitu lansia beraktivitas ‘personal hiegyne’ pada kamar mandi setelah dilakukan pemasangan pegangan tangan (‘railling’). Sedangkan kelompok kontrol (P0) yaitu aktivitas lansia pada kamar mandi keadaan mula yaitu ruangan tanpa mempergunakan pegangan tangan. Variabel tergantung yang diteliti adalah kenyamanan lansia yang terdiri dari parameter kemandirian dan kelegaan dalam penggunaan kamar mandi. Untuk mengetahui tingkat kemandirian lansia, dipergunakan check list pengamatan dengan 2 skala Likert pada observasi lapangan, foto dan rekaman ‘closed-circuit TV’. Begitu juga untuk kelegaan dilakukan wawancara dengan kuesioner kelegaan 2 skala Likert. Selanjutnya seluruh data hasil penelitian diuji normalitasnya dengan uji Kolmogorov-Smirnov, sedang kemaknaan antara kedua perlakuan dengan uji ‘t-paired’ pada tingkat kemaknaan (α = 0,05).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: rerata skor kemandirian pada P0 sebesar 4,00 + 1,08, dan untuk kelegaan 6,54 + 1,13. Sedangkan pada P1 sebesar 5,00 + 1,35 pada kemandirian dan 9,23 + 1,09 untuk kelegaan. Dengan dilakukannya pemasangan ‘railling’, terjadi peningkatan skor pada variable kemandirian sebesar 1,00 atau 25,00% dan kelegaan 2,69 (41,13%) dan secara statistik peningkatan tersebut sangat signifikan (p=0,000).
Dapat disimpulkan bahwa intervensi ergonomi berupa pemasangan ‘railling’ kamar mandi pada Pusat Kegiatan Lansia ‘Aisyiyah Surakarta, dapat meningkatkan kenyamanan lansia penggunanya. Pimpinan lembaga pengelola kegiatan lansia dan sejenisnya dianjurkan untuk dapat menerapkan cara-cara seperti hasil penelitian ini.
Kata Kunci: lansia, railling, kamar mandi, ergonomis

PENDAHULUAN
Meningkatnya umur harapan hidup penduduk Indonesia akan berakibat meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia). Yang dimaksud dengan lansia dalam penetapan Program Kesehatan untuk Usia Lanjut, berdasar UU. No.4 tahun 1965 adalah penduduk yang telah berumur lebih dari 55 tahun (Sudana, 1990). Badan dunia PBB menetapkan bahwa lansia adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun (Kumashiro, 2000). Istilah lansia pada telaah ini ditujukan bagi orang yang berusia di atas 55 tahun.
Data pasien lansia yang dirawat dan telah keluar dari Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Prof. DR. R. Soeharso Surakarta, terhitung mulai bulan September tahun 2000 sampai September 2001 berjumlah 466 pasien. Pada kurun waktu 12 (duabelas) bulan tersebut ternyata: 11,16% pasien mengalami cedera di daerah kamar mandi (tergelincir, terjatuh, dan terduduk). Tingginya jumlah lansia yang mengalami kecelakaan di daerah kamar mandi (11,16%), menunjukkan bahwa

Perancangan Ulang Produk TV Bracket Dalam Rangka Penghematan Biaya Dan Peningkatan Nilai Produk Dengan Metode Rekayasa Nilai (Value Engineering) (Studi Kasus di PT MAK Yogyakarta)

Perkembangan dalam dunia bisnis sekarang ini, pengembangan produk mempunyai waktu siklus yang semakin pendek. Tiap badan usaha berkompetisi dalam memenangkan persaingan tersebut. Strategi diterapkan perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Penurunan biaya produk dapat dijadikan salah satu strategi dalam kompetisi didunia usaha dengan tidak mengurangi mutu dari produk tersebut.
Pengurangan biaya (cost reduction) dengan menggunakan metode rekayasa nilai (value engineering) banyak digunakan oleh perusahaan. Metode ini menganalisa fungsi-fungsi produk dan menentukan nilai indek dari produk tersebut. Indek tersebut merupakan perbandingan antara kepentingan produk dan biaya yang dikeluarkan oleh produk tersebut. Nilai indek yang rendah dan fungsi yang tidak memberikan nilai tambah perlu diperhatikan untuk diperbaiki/dikembangkan.
Penelitian yang dilakukan terhadap disain produk TV Bracket di PT MAK bertujuan untuk mengidentifikasi nilai indek dari komponen produk, mengeliminasi komponen/fungsi yang tidak memberikan nilai tambah produk, melakukan penghematan terhadap biaya produk dengan membuat disain produk pengganti/baru.
Produk TV Bracket yang sedang dikembangkan oleh PT MAK terdapat beberapa komponen yang mempunyai nilai indek rendah antara lain cover bawah penyangga, cable trim, table, shaft pipe, primary bottom arm, top wall cover, dan bottom wall cover.
Produk yang diusulkan sebagai pengganti produk TV Bracket awal mempunyai biaya yang lebih rendah dengan penghematan sebesar Rp. 11.019,00 atau 29,89 %, jumlah komponen berkurang 44,4 %, waktu pengerjaan berkurang 10,4 %, selain itu dilihat dari prinsip design for assembly (DFA) mempunyai kemudahan dalam perakitan lebih baik dari produk awal.
Kata Kunci : value engineering, bracket TV, design for assembly (DFA)

I. PENDAHULUAN
Perkembangan dalam hal teknologi berakibat pula terhadap proses pengembangan produk, dimana siklus hidup produk semakin lama semakin pendek. Tingkat kompetisi perusahaan manufaktur dalam peluncuran produk baru telah berlangsung cukup ketat pada era sekarang.
Dalam perkembangan ini terlihat adanya pertumbuhan pasar-pasar jenis baru baik dalam hal harga, volume, keragaman, dan mutu. Pertumbuhan akan pasar produk-produk baru inilah tempat tumbuhnya harapan pembeli, baik konsumen maupun perusahaan industri. Kebijakan dan peranan pemerintah telah sangat membantu kalangan usaha dalam

Saturday, 5 December 2015

Pemanfaatan program simulasi komputer dalam proses pengajaran sistem tenaga listrik di perguruan tinggi swasta

PEMANFAATAN PROGRAM SIMULASI KOMPUTER DALAM PROSES PENGAJARAN SISTEM TENAGA LISTRIK DI PERGURUAN TINGGI SWASTA. Salah satu kesulitan yang dialami dalam proses pengajaran Sistem Tenaga Listrik (STL) di Perguruan Tinggi Swasta adalah pengadaan peralatan praktikum dan visualisasi teori-teori yang ada. Kedua kesulitan tadi dapat dijembatani dengan memanfaatkan Program Simulasi STL yang tersedia dalam bentuk education version yang bisa diperoleh melalui berbagai situs internet Sistem Tenaga Listrik. Dengan penelaahan terhadap kinerja dan fasilitas program tersebut, yang kemudian dikaitkan dengan materi pengajaran STL akan diperoleh manfaat bebagai program yang ada.
Kata kunci : Pengajaran STL, Program simulasi STL

PENDAHULUAN
Pemakaian program simulasi pada analisa sistem tenaga listrik merupakan suatu keharusan yang tidak bisa dihindari. Hal ini disebabkan karena rumitnya perhitungan dalam analisa sistem tenaga listrik dan mahalnya biaya untuk pengadaan laboratorium analisa sistem tenaga. Bagi program studi kelistrikan, maka program simulasi tersebut sangatlah membantu dalam proses pengajaran analisa sistem tenaga di dalam kelas/laboratorium. Dengan program simulasi tersebut

Thursday, 3 December 2015

Aplikasi PLC pada proses pengujian dan pengemasan produksi lampu pijar

Barang yang akan dipasarkan harus melewati tahap-tahap dalam proses produksinya, seperti proses pengujian dan proses pengemasan karena barang-barang yang telah lulus uji serta memiliki kemasan yang menarik memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan omset penjualan dari suatu barang, oleh karena itu proses pengujian dan pengemasan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagian dari perusahaan-perusahan di Indonesia masih menggunakan tenaga manusia dan peralatan konvensional untuk melakukan proses pengujian dan pengemasan tersebut, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Proses menggunakan tenaga manusia dan peralatan konvensional dalam proses pengujian dan pengemasan akan memakan waktu yang cukup lama dan memiliki tingkat akurasi yang rendah karena keterbatasan yang dimiliki, selain itu juga masih banyak kekurangan yang dimiliki seperti pengkabelannya yang rumit, pelacakan kesalahan, perawatan, ataupun perancangan ulang sistem membutuhkan waktu yang lebih lama serta dokumentasi gambar yang kompleks. Usaha yang dilakukan untuk meminimalkan kekurangan-kekurangan tersebut adalah selain menggunakan tenaga manusia (operator), digunakan juga alat kontrol otomatis dalam proses pengujian dan pengemasan tersebut. Salah satu alat kontrol otomatis tersebut adalah PLC (Programmable Logic Controller) yang memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan sistem kontrol konvensianal maupun dengan hanya menggunakan tenaga manusia.
PLC memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem kontrol konvensional, seperti